Surat Untuk Anakku (10)

Aku selalu ingat salah satu mentor marketing panutanku. Setiap kali briefing teamnya, dia selalu mengingatkan dan menekankan bahwa dalam dunia pemasaran (dan bisnis), tidak ada yang namanya juara kedua. Either juara satu (baca: dapat order, dapat proyek), atau tidak sama sekali. Tidak berlaku medali perak atau perunggu karena nyaris dapat order atau proyek. Hal sama berlaku juga untuk, misalnya, urusan tender-tender yang hanya memilih satu pemenangnya. Sisanya? Yang kalah, gigit jari. Kejam kan?

Read More

SAYA? MILIARDER? (GITU AJAH)

“Jadi para miliarder terdepak dari daftar orang kaya karena harga sahamnya turun?”
“Ya.”
“Artinya, sebelumnya mereka ada di daftar miliarder karena harga sahamnya naik ya?”
“Ya.”
“Jadi, jadi, kalau harga saham saya naik, saya, saya bisa jadi miliarder gitu?”
“Begitulah.”
“Gitu ajah?”
“Ya, gitu ajah.”
“Beneran gitu ajah?”
“Iyaaa…”

Read More

THANOS DAN BLACK WIDOW

“Katanya investasi saham-saham gitu, boleh ikut?” Teman saya mendesak. Teman saya yang lugu. Namun temannya adalah seorang serakah. Dan jahat. Karena kepada teman saya, dia mengatakan, hanya perlu menunggu beberapa minggu atau bulan saja untuk balik modal, setelah itu sudah aman dan untung. Dia mengerti risiko itu. Tetapi dia mengaku, tidak tahu sama sekali bisnis apa yang dijalankan di balik ini. (Mereka dulu teman kuliah, sekarang teman seprofesi, salah satu profesi paling terhormat di muka bumi ini. Bayangkan, berteman puluhan tahun dan berlatar belakang pendidikan kaum intelektual. Bayangkan.)

Read More