RABU PAGI DI MONUMEN NASIONAL

Setiap Rabu dia akan ke Monumen Nasional Berjalan kaki dari kontrakannya di kawasan padat Karang Anyar Menyusuri Pasar Baru yang dahulu pernah menjadi primadona dan Lapangan Banteng yang sekarang tiba-tiba jadi ajang rebutan pengakuan Melewati jalan yang memisahkan Katedral dan Istiqlal Dia selalu bersemangat kalau sudah melihat menara cantik gereja dan kubah megah mesjid itu…

Read More

SATU DI ANTARA RATUSAN GUNUNG

Aku melepas ikat kepala Buff pemberiannya Melingkarkan di pergelangan tangan Kiri seperti saban Nah, aku jelas mendengarmu Hanya apakah bisik tawamu Atau jerit tangismu Aku tak tahu Ilalang merunduk kalah Menyembah tanah Karenamu Katanya ombak yang terbelah Di laut yang lelah Sepertimu Bambu-bambu anak panah Daunnya bergesek saling melukai Sementara kabut durjana Terus mengurung sedari…

Read More

BIARKAN DIA DI SANA, MISTERI

Kami berdiri dan mengucapkan selamat berpisah Namun cinta dan keputusasaan berdiri diantara kami seperti dua hantu Yang satu mengembangkan sayapnya dengan jari di tenggorokan kami Sementara yang satu menangis dan yang lain tertawa Saat aku menggenggam tangan Selma untuk kucium Ia mendekat padaku dan mencium dahiku Ia menutup matanya dan berbisik lembut, “Oh Tuhan, ampunilah…

Read More

UNTUK KAMU YANG TERLALU MENGERTI AKU

Tak ada lagi matahari Juga bulan yang menemaniku Baiklah, Biar kubungkus saja hujan ini Kubawa pulang Untuk membasuh sesakku Sambil, Membelai rambutmu di layar kaca Menjilat keringatmu di handphoneku Membaca puisi indahmu dalam diam Melukis cerita-cerita seronokmu Aku tak butuh lagi matahari Juga bulan yang kau tinggalkan Aku hanya merindukan hujan Cukup itu saja, Untuk…

Read More