BERTAMBAHLAH KAYA, TETAPLAH MISKIN

Abang saya di ujung barat negeri pernah memberi petuah, kalau menulis harus hati-hati karena penafsiran pembaca bisa sangat bervariasi, bahkan bisa jadi pisau bermata dua. Saya mengamini dan berusaha belajar menjadi adik-patuh (anak-patuh dan warga-patuh). Tulisan-tulisan yang lebih banyak mudarat dibanding manfaat, lebih baik saya simpan rapih di folder, handphone.

Read More

DAYS ARE NUMBERS

We are just visitors to this time, this place. We are just passing through. Our purpose here is to observe, to learn, to grow and to love… and then we return home. ~ Australian Aboriginal Proverb Kita hanya tamu. Kita hanya pengelana. Ketika hadir dalam bentuk bayi kecil, kita mendengar bisikan sayang ayah ibu, mengamati…

Read More

#kenapasusahpatuh

Tulisan ini untuk kita, para pelari.

Ini bukan masalah program latihan. Ini bukan masalah takut gendut. Ini bukan masalah tidak melanggar apapun. Ini bukan masalah lari sendiri, yang penting physical-distancing. Ini bukan masalah menunjukkan “gua nih tetap lari”. Ini bukan masalah takut mati.

Ini masalah belajar dari rumah, bekerja dari rumah, ibadah saja harus di rumah. Ini masalah supir ojol yang terpaksa tetap harus keluar rumah demi makan sehari-hari. Ini masalah tenaga medis yang harus meninggalkan rumah dan taktahu apakah masih sempat kembali memeluk anaknya.

Ini masalah simpati.
Ini masalah empati.
Ini masalah patuh.

Kita bukan hanya pelari.
Kita juga manusia.

Read More